Alat musik Arbab
Arbab (Sumatera)
Dalam tataran musik
dikenal klasifikasi alat musik berdasarkan sumber, bahan,penggunaan dan
lain-lain. Arbab sebagai alat musik tradisional Simalungun digolongkan pada klasifikasi
alat musik dawai (senar) yang biasa dikenaldengan istilah kordofon. Alat musik
dawai banyak ragamnya di seluruh dunia, sehingga kemiripan satu sama lain
sangat mungkin terjadi. Namun, perbedaan yang mendasar padaumumnya terletak
pada cara memainkan,dan nada yang dihasilkan.
Instrumen ini terdiri dari 2 bagian yaitu Arbabnya sendiri (instrumen induknya) dan penggeseknya (stryk stock). Arbab menggunakan busur dan dimainkan layaknya biola. Namun, ada perbedaan yang besar pada sikap pemain saat memainkannya. Kalau biola diletakkan di bahu dam lengan, Arbab dimainkan dengan meletakkannya pada posisi bersender 45 derajat, dan kaki pemain menahan Arbab. Dengan demikian si pemain harus duduk di lantai. Instrumen ini memakai bahan; tempurung kelapa, kulit kambing, kayu dan dawai.
Pada umumnya Arbab dimainkan dalam ensambel musik kecil yang dilengkapi tiga musisi lain yang memainkan husapi (sejenis alat musik dawai) dan Odap (gendang kecil) serta piring yang berfungsi sebagai perkusi; sekaligus sebagai metronom bagi permainan Arbab.
Instrumen ini terdiri dari 2 bagian yaitu Arbabnya sendiri (instrumen induknya) dan penggeseknya (stryk stock). Arbab menggunakan busur dan dimainkan layaknya biola. Namun, ada perbedaan yang besar pada sikap pemain saat memainkannya. Kalau biola diletakkan di bahu dam lengan, Arbab dimainkan dengan meletakkannya pada posisi bersender 45 derajat, dan kaki pemain menahan Arbab. Dengan demikian si pemain harus duduk di lantai. Instrumen ini memakai bahan; tempurung kelapa, kulit kambing, kayu dan dawai.
Pada umumnya Arbab dimainkan dalam ensambel musik kecil yang dilengkapi tiga musisi lain yang memainkan husapi (sejenis alat musik dawai) dan Odap (gendang kecil) serta piring yang berfungsi sebagai perkusi; sekaligus sebagai metronom bagi permainan Arbab.
Musik
arbab pernah berkembang di daerah Pidie, Aceh besar dan Aceh barat. Arbab ini
dipertunjukkan pada acara-acara keramaian rakyat, seperti hiburan rakyat, pasar
malam dsb. Sekarang ini tidak pernah dijumpai kesenian ini, diperkirakan sudah
mulai punah. Penggunaan Arbab pada waktu belakangan ini telah mengalami penurunan
intensitas. Hal ini dikhawatirkan dapat menghilangkan Arbab dalam percaturan
kesenian tradisional masyarakat Simalungun.
Untuk meningkatkan
intensitas penggunaan Arbab selayaknya kita semua berusaha dan bekerja sama
untuk melestarikan kesenian tradisional ini menjadi modal budaya dalam
menghadapi perkembangan zaman yang semakin kompleks. Pelestarian Arbab tidak
hanya menjadi tanggung masyarakat Simalungun saja, tapi juga seluruh etnis
Batak, Indonesia. Arbab merupakan unsur kekayaan budaya tradisional Indonesia
yang amat beragam.Usaha-usaha untuk dapat melestarikan Arbab sejalan dengan jargon kebudayaan saat ini, yaitu think locally act globally; dengan harapan kedepan bahwa Arbab dapat menjadi modal budaya penting bagi masyarakat dunia pada umumnya dan menjadi kekayaan budaya Simalungun pada khususnya.

0 Komentar:
Posting Komentar
Berlangganan Posting Komentar [Atom]
<< Beranda